Laman

Sabtu, 06 Juli 2013

UBT - U Learning, Platform Baru Mengatasi Kesenjangan Pembelajaran


ILTEC-Jakarta - Sebuah inovasi diperkenalkan NSDevil atau North Star Developer's Village untuk menerobos kesenjangan proses pembelajaran yang selama ini menjadi jurang lebar antara pendidikan di kota dan daerah-daerah terpencil. Inovasi teknologi bernama Ubiquitous Base Test (UBT) & Ubiquitos-Learning (U-Learning) Platform itu diterakan tidak hanya berbasiskan internet. <p>

"Tapi sudah diperluas dan semakin dipermudah dengan aplikasi 3G wireless communication technology atau jaringan perangkat selular yang kini sudah banyak digunakan di berbagai pelosok tanah air," kata Direktur PT Surya Inti Komunikasi, Tonny Firman A, di Jakarta, Kamis (4/7/2013), menyambut penandatanganan MoU dengan CEO NSDevil, Lee Un Joo, dan Komisaris PT Surya Inti Komunikasi, Honye Fauzia Aurelia. <p>

Tonny mengatakan, teknologi ini setidaknya dapat mengatasi kurangnya sarana infrastruktur dan tenaga pendidik untuk membuat pencapaian mutu pendidikan lebih maksimal. Saat ini, Indonesia sudah harus secepatnya menerapkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien. <p> 



Dia mengakui, E-Learning memang telah diterapkan. Hanya saja, konsep pembelajaran itu masih terbatas pada jaringan internet. <p>

"Sementara U-Learning memanfaatkan jaringan komunikasi dari vendor, sehingga tidak bergantung pada PC atau laptop," ujar Tonny. <p>

Dia mengatakan, pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi. Menurutnya, tidak hanya lembaga formal, karena balai pelatihan pendidikan pun bisa memanfaatkan teknologi ini karena sudah diapresiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk bisa membantu mewujudkan kesetaraan pendidikan. <p>

Teknologi biquitous Base Test (UBT) & Ubiquitos-Learning (U-Learning) Platform, menurut penemunya, Cavin Shin, telah diterapkan di Afrika Selatan, Rusia, Jepang, dan Filipina. Bahkan, teknologi ini diujicobakan saat Ujian Negara bersama dengan Korea. <p>

Dalam pengembangannya di Indonesia, pemakaian teknologi biquitous Base Test (UBT) & Ubiquitos-Learning (U-Learning) Platform telah dimulai sejak November 2012 lalu, setelah NS Devil telah bekerjasama dengan Universitas Pasundan Bandung, sebagai pilot project. <p>

"Untuk tahap pertama pada Juni 2013 memperlihatkan hasil cukup signifikan bagi para mahasiswa maupun dosen dalam proses perkuliahan hingga ujian semester," kata Tonny.<p>

sumber; kompas<p>

Bapak/Ibu/Sdr ingin lebih tahu lebih jauh tentang UBT ini, ILTEC Palembang akan memfasilitasinya melalui seminar dan workshop, bagi yang berminat Silahkan email: iltec@mail.com :  Nama/Nomor Hp/Email/Alamat.

Minggu, 23 Juni 2013

Cerita Pengusaha Sukses - Tjio Wie Tay (Haji Masagung)

Cerita pengusaha sukses sebagai perintis toko buku dan stationary terkemuka di Indonesia memang layak diberikan kepada toko buku yang satu ini. Ternyata, toko buku yang mendatangkan omzet jutaan rupiah / bulannya ini adalah karya besar Tjio Wie Tay alias Haji Masagung sebagai pendiri yang sudah bersusah payah merintis usaha dari nol dan kini mampu bertahan disaat persaingan yang semakin memanas. Ia pun berhasil melambungkan nama toko bukunya di kancah nasional ataupun internasional. Cerita pengusaha sukses dari tokoh ini adalah anak ke empat dari lima bersaudara dari pasangan Tjio Koan An dan Tjoa Poppi Nio. Kerja keras dan perjuangannya patut kita tiru karena akan membuat kita semakin menambah wawasan dan meningkatkan semangat untuk mengembangkan usaha kita. Kisah perjalanan pengusaha sukses ini sangat menginspirasi semua orang dan saya berharap ini juga terjadi pada pembaca sekalian. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti perjalanan cerita pengusaha sukses ini. Tjio Wie Tay (Haji Masagung) Sejarah keberadaan Toko Gunung Agung, tidak lepas dari akrobat-akrobat bisnis yang dilakukan tokoh kuncinya, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung. Terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara pasangan Tjio Koan An dan Tjoa Poppi Nio, Wie Tay sebenarnya bisa menikmati masa kecil yang indah. Ayahnya seorang ahli listrik tamatan Belanda, sedangkan kakek seorang pedagang ternama di kawasan Pasar Baru, Bogor. Tapi kebahagiaan itu tidak dikecapi terlalu lama, karena kala dia berusia empat tahun, sang ayah meninggal dunia. Sejak saat itu kehidupan ekonomi mereka menjadi sangat sulit. Dalam buku Bapak Saya Pejuang Buku yang ditulis putranya, Ketut Masagung dan disusun kembali oleh Rita Sri Hastuti dikisahkan bahwa Wie Tay tumbuh sebagai anak nakal yang suka berkelahi. Ia juga punya kebiasaan “suka mencuri” buku-buku pelajaran kakak-kakaknya untuk dijual di pasar Senen guna mendapatkan uang saku. Karena kenakalan ini, ia tidak bisa menyelesaikan sekolah, meski sudah dikirim sampai ke Bogor dan sempat masuk di dua sekolah berbeda. Justru karena kenakalannya, Wie Tay tumbuh sebagai anak pemberani. Ia tidak takut berkenalan dengan siapa saja, termasuk dengan tentara Jepang yang kala itu mulai masuk ke Banten. Bahkan dari tentara Jepang, ia mendapatkan satu sepeda. Modal “berani” ini yang kemudian dia bawa masuk ke dalam dunia bisnis, dan tidak bisa dipungkiri, menjadi salah satu senjata andalannya dalam menggerakkan roda bisnisnya. Setelah diusir pamannya dari Bogor dan harus kembali ke Jakarta saat berusia 13 tahun, Wie Tay menemukan kenyataan bahwa keadaan ekonomi ibundanya belum membaik jua. Tak ada jalan lain baginya kecuali harus mencari uang sendiri. Awalnya, ia kembali ke “kebiasaan” lama mencuri buku pelajaran kakaknya untuk dijual guna mendapatkan 50 sen. Setelah stok buku pelajaran habis, ia mencoba menjadi “manusia karet di panggung pertunjukkan” senam dan aerobatik. Tapi penghasilannya ternyata tidak seberapa banyak. Pedagang Asongan Ia kemudian banting setir menjadi pedagang rokok keliling. Di sinilah sifat beraninya mulai terlihat. Wie Tay yang digambarkan sebagai anak yang banyak kudis di kepala dan borok di kaki ini nekat menemui Lie Tay San, seorang saudagar rokok besar kala itu. Dengan modal 50 sen, ia memulai usaha menjual rokok keliling di daerah Senen dan Glodok. Di sini ia mulai rajin menabung, karena sudah merasakan betapa susah mencari uang. Hasil tabungannya kemudian dibelikan sebuah meja sebagai tempat berjualan di daerah Glodok. Karena belum memiliki kios sendiri, meja tersebut dititipkan pada sebuah toko onderdil di Glodok, sampai akhirnya ia mampu membuka kios di Senen. Menjadi pedagang rokok keliling membuka mata Wie Tay remaja bahwa ada tempat partai rokok besar selain Lie Tay San, yaitu di Pasar Pagi. Maka, setelah membuka kios dia mulai membeli rokok di Pasar Pagi. Selanjutnya, Wie Tay juga berkenalan dengan The Kie Hoat, yang bekerja di perusahaan rokok Perola, salah satu merek rokok laris kala itu. The Kie Hoat kemudian akrab dengan Wie Tay dan Lie Tay San. Suatu hari, The Kie Hoat ditawari relasinya untuk mencarikan pemasaran. Kie Hoat lalu merundingkan dengan kedua sahabatnya tadi. Saat Lie Tay San masih ragu, Wie Tay yang masih sangat belia dalam bisnis itu malah langsung setuju. Ia yakin bisa cepat dijual dan mendatangkan keuntungan besar. ternyata benar. Sayang buntutnya tidak enak. The Kie Hoat akhirnya dipecat dari Perola karena dinilai melanggar aturan perusahaan, menjual rokok ke pihak luar yang bukan distributor. Ketiga sahabat ini kemudian bergabung dan mendirikan usaha bersama bernama Tay San Kongsie, tahun 1945. Di sinilah awal pergulatan serius Wie Tay dalam dunia bisnis. Mereka memang masih menjual rokok, tapi melebar ke agen bir cap Burung Kenari. Pada saat bersamaan mereka juga mulai serius berbisnis buku. Atas bantuan seorang kerabat, mereka bisa menjual buku-buku berbahasa Belanda yang diimpor dari luar. Buku-buku ternyata laku keras. Mereka berjualan di lapangan Kramat Bunder, tidak jauh dari rumah Lie Tay San. Setelah itu mereka membuka toko 3×3 meter persegi, kemudian diperluas menjadi 6×9 meter persegi. Lantaran keuntungan dari penjualan buku sangat besar, mereka lalu memutuskan berhenti berjualan rokok dan berkonsentrasi hanya menjual buku dan alat tulis menulis. Tahun 1948, mereka sepakat mengukuhkan bisnis mereka dalam bentuk firma, menjadi Firma Tay San Kongsie. Saham terbesar dimiliki Lie Tay San (40%), The Kie Hoat (26,67%) dan Wie Tay (33,33%). Masagung ditunjuk memimpin perusahaan ini. Mereka kemudian membuka toko di kawasan Kwitang. Ketika orang-orang Belanda hendak meninggalkan Indonesia, Wie Tay mendatangi rumah orang-orang Belanda tersebut dan meminta buku-buku bekas mereka untuk dijual dengan harga murah. Membangun Toko Gunung Agung Pada 13 Mei 1951, Wie Tay menikahi Hian Nio. Setelah menikah, Wie Tay berpikir untuk mengembangkan usaha menjadi besar. Dia mengusulkan kepada kedua rekannya untuk menambah modal. Lie Tay San keberatan. Dia memutuskan mundur dan tetap dengan toko bukunya di lapangan Kramat Bunder, (kini Toko Buku Kramat Bundar). Sementara Masagung alias Tjio Wie Tay bersama The Kie Hoat membangun toko sendiri di Jln Kwitang No 13, sekarang menjadi Gedung Idayu dan Toko Walisongo. Saat itu, Kwitang masih sepi. Jangankan kios buku, toko lainnya pun belum ada. Baru ketika Wie Tay membuka toko di sana, keramaian mulai tercipta. Sejumlah gerobak buku mulai kelihatan. Sejak saat itu Kwitang menjadi ramai. Cukup lama Tjio Wie Tay mencari nama untuk toko barunya. Kemudian baru muncul ide untuk menerjemahkan namanya sendiri ke dalam bahasa Indonesia. Tjio Wie Tay dalam bahasa Indonesia berarti Gunung Besar atau Gunung Gede tapi Wie Tay mengubahnya menjadi Gunung Agung. Toko buku mereka berkembang pesat. Pesanan dari luar Jakarta berdatangan, tidak hanya buku tapi juga kertas stensil, kertas tik dan tinta. Melihat perkembangan ini, tercetuslah ide untuk membina usaha dengan kalangan yang dekat dengan buku, antara lain kalangan wartawan dan pengarang. Sejumlah wartawan senior kala itu ikut bergabung, termasuk sejumlah saudagar tingkat atas. Tidak heran kalau buku-buku yang diterbitkan pada awal berdirinya adalah buku-buku sastra tulisan tangan para “orang dalam” tersebut. Bentuk usaha firma lalu diubah menjadi NV. Saat peresmian NV Gunung Agung, Wie Tay membuat gebrakan dengan menggelar pameran buku pada 8 September 1953. Dengan modal Rp 500 ribu, mereka berhasil memamerkan sekitar 10 ribu buku. Tanggal ini yang kemudian dianggap sebagai hari lahirnya Toko Gunung Agung –yang juga menjadi hari kelahiran Wie Tay sendiri. Menggelar pameran buku, seolah menjadi “trade mark” bentuk promosi yang dilakukan Gunung Agung. Tahun 1954, Wie Tay mengadakan lagi pameran buku tingkat nasional bertajuk Pekan Buku Indonesia 1954. Pada acara inilah Wie Tay bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh nasional yang sangat dikaguminya, yakni Bung Karno dan Bung Hatta. Bagi dia, pertemuan dengan Bung Karno adalah hal yang menakjubkan. Selain sebagai presiden, Bung Karno adalah tokoh yang sangat dikaguminya sejak dia masih kecil. Peran Bung Karno Sukses menyelenggarakan Pekan Buku Nasional dan kedekatannya dengan Bung Karno, membuat Gunung Agung dipercaya membantu pemerintah menyelenggarakan Pameran Buku di Medan dalam rangka Kongres Bahasa Indonesia pada tahun yang sama. Dari sana dilanjutkan dengan pembukaan Cabang Gunung Agung di Yogyakarta, 1955. Tahun 1956, kembali Gunung Agung diminta pemerintah menyelenggarakan pameran buku di Malaka dan Singapura. Tahun 1963, Toko Gunung Agung sudah memiliki sebuah gedung megah berlantai tiga di Jln Kwitang 6. Acara ulang tahun ke-10 tersebut yang diikuti dengan peresmian gedung tersebut dihadiri langsung Bung Karno. Pada tahun itu juga, tepatnya 26 Agustus 1963, Wie Tay berganti nama menjadi Masagung. Kalau padanya ditanyakan tokoh siapa yang paling berpengaruh dalam bisnis penerbitan dan toko buku, maka Masagung pasti akan menyebut nama Bung Karno. Ia pun selalu teringat akan pesan Bung Karno padanya. “Masagung, saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini sangat bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan,” ujar Bung Karno. Seraya memeluk Masagung, Bung Karno menyerahkan kepercayaan kepada Masagung untuk menerbitkan dan memasarkan buku-bukunya semacam Di Bawah Bendera Revolusi (dua jilid), Biografi Bung Karno tulisan wartawan AS, Cindy Adams, buku koleksi lukisan Bung Karno (lima jilid), serta sejumlah buku tentang Bung Karno lainnya. Penerbitan buku-buku Bung Karno inilah yang membawa Gunung Agung menanjak. Bantuan Bung Karno tidak berhenti di situ. Bung Karno juga meminta Gunung Agung mengisi kebutuhan buku bagi masyarakat Irian Barat saat Trikora. Masagung lalu kemudian mengadakan pesta buku di Biak, Marauke, Serui, Fak Fak, Sorong, dan Manokwari. Tugas yang sama kembali diemban untuk masyarakat Riau dalam rangka Dwikora. Bukan cuma di Indonesia. Masagung juga agresif membangun jaringan di luar negeri. Tahun 1965, dia membuka cabang Gunung Agung di Tokyo, Jepang. Lalu mengadakan pameran buku Indonesia di Malaysia awal 1970-an. Ternyata, kepak sayap bisnis Masagung tidak sebatas toko buku dan penerbitan. Ia juga merambah bisnis lain . Ia tercatat mengelola bisnis ritel bekerjasama dengan Departement Store Sarinah di Jln MH Thamrin, lalu masuk ke Duty Free Shop, money changer, dan perhotelan . Itulah akrobat bisnis yang dilakukan seorang “mantan” anak jalanan. Si anak nakal yang tidak tamat SD itu ternyata mampu mem-bangun kerajaan bisnis yang kokoh hingga kini. (Sumber: wikipedia.org) Sebuah kerja keras, keberanian disertai dengan kesungguhan akan membawa keberhasilan. Demikian yang ditunjukkan oleh sosok Tjio Wie Tay alias Haji Masagung. Dulu Wie dikenal sebagai anak nakal yang tidak tamat SD, tetapi dibalik kenakalan itu terpancar naluri bisnis yang tajam. Ia mampi membuiktikan, bahwa dengan tekad bulat dan kerja keras, akhirnya ia berhasil mendirikan kerajaan bisnis yang kokoh hingga kini. Saya berharap anda bisa terinspirasi dengan cerita pengusaha sukses ini. Jaga terus semangat kewirausahaan, salam sukses selalu! sumber: profilpengusahasuksesindonesia

Pola dan Cara Berfikirnya Orang Sukses

Berikut tulisan yang mudah-mudahan menghantarkan kita menjadi sukses, silahkan disimak dan di laksanakan ya....

"Successful people think differently than unsuccessful people"

Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang sukses dan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik.

Orang-orang yang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikir positif. Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah :

1. Big picture thinking bukan small thinking Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.

2. Focused thinking bukan scattered thinking Sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-loncatan besar dapat mereka raih.

3. Creative thinking bukan restrictive thinking Proses berpikir kreatif ini meliputi : think-collect-create-correct-connect.

4. Realistic thinking bukan fantasy thinking Memungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target dan rencana serta keamanan sebagai katalis dan memiliki kredibilitas.

5. Strategic thinking bukan random thinking Sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence other dapat dilakukan.

6. Possibility thinking bukan limited thinking Mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang dihadapi.

7. Reflective thinking bukan impulsive thinking Memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture and confident decision making.

8. Innovative thinking bukan popular thinking Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih baik.

9. Shared thinking bukan solo thingking Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

10. Unselfish thinking bukan selfish thingking Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikiran orang lain.

11. Bottom line thinking bukan wishful thinking Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi pemikiran yang dimiliki.

Sumber : peting-kradenan

4 Pola Pikir Orang Sukes

Orang sukses punya pola pikir…, atau cara berfikir yang berbeda dengan pola pikir kebanyakan orang yang tidak sukses. Apa saja itu ?

Banyak Buku Biography yang menceritakan tentang bagaimana perjalan hidup, dan karir bisnis dari orang-rang sukses yang ada di dunia ini – dan tentunya semua pola pikir dari orang-orang sukses tersebut dapat dijadikan tolok ukur – dan juga menjadi Inspirasi yang sangat berharga bagi setiap orang lain-nya yang ada di muka bumi ini, agar tentunya, setiap orang lain juga berhak dapat meraih rahasia dari “kesuksesan” tadi – sebelum action, dalam mencapai sukses tentunya, harus dimulai dari merubah kebiasan konsep pola pikir ( mind set ) yang lama, menjadi lebih baru, dan lebih terbuka dan tanggap terhadap setiap segala hal yang sedang terjadi – dalam memaknai setiap hal, dengan lebih cermat sehingga dapat menumukan solusi baru dalam melangkah mencapai menuju anak tangga kesuksesan tersebut. dan apa saja yag menjadi pola pikir orang sukses..

Sukses tidak ditentukan oleh nasib

Nasib seseorang sangat dipengaruhi oleh semua tindakan yang dilakukannya. Tentu saja tindakan-tindakan itu dimotori oleh pola pikirnya. Menjadi orang sukses dan kaya atau menjadi orang gagal dan miskin bukanlah karena nasib, melainkan karena pola pikir dan tindakannya yang berakibat pada keadaan sekarang. Untuk menjadi sukses dan kaya, orang harus berkemauan keras dan berusaha secara konsisten dari waktu ke waktu. Untuk mencapai sukses yang lebih besar, Kita sewajarnya harus meniru cara berpikir dan cara kerja orang sukses, yaitu mulai dengan sukses-sukses kecil setiap waktu dan dilandasi banyak kemampuan yang akan mempermudah jalan menunju sukses dan kaya.

Sukses adalah suatu kebiasaan

Orang sukses menjadi sukses sebagai suatu kebiasaan yang harus dijalani. Baginya, sukses bukanlah suatu destinasi (tujuan akhir), melainkan suatu proses perjalanan. Setiap keputusan dan tindakan jitu yang Anda lakukan sudah merupakan sukses. Dalam perjalanan hidup sehari-hari, Anda akan banyak mendapatkan sukses-sukses yang terkumpul menjadi sukses besar. Sukses besar tidak dihasilkan hanya dari satu keputusan dan satu tindakan saja, melainkan merupakan akumulasi dari setiap sukses yang Anda peroleh sehari-hari. Dengan demikian, sukses adalah suatu kebiasaaan positif di dalam hidup seseorang.

Kegagalan adalah bagian dari sukses

Orang sukses memandang kegagalan yang dialaminya sebagai bagian dari kesuksesan, sehingga tidak seharusnya membuatnya jera dan menghalangi peluang sukses di masa yang akan datang. Kegagalan hanyalah suatu kesuksesan yang tertunda. Justru dengan suatu kegagalan yang dialaminya ia akan bertambah pengalaman, aman, dan bertambah matang. Ia bertambah gigih dan berhasil. Sebaliknya, orang gagal akan memadang pengalaman ke gagalnya sebagai suatu “trauma” yang membuatnya menjadi jera dan takut untuk memulai lagi.

Orang sukses selalu berorentasi kepada solusi

Dalam hidup, orang yang tidak akan pernah lepas dari masalah. Orang sukses meyakini bahwa di balik suatu masalah yang datang pasti ada peluang dan solusinya. Pola pikir seperti inilah yang membuatnya tahan uji dan tak mudah menyetah. Sebaliknya, orang gagal akan memandang adanya masalah di setiap solusi yang dibuat. Akibatnya, ia cenderung pesimistis dalam menanggapi setiap peluang,. Ia lebih memilih status quo yang dirasa paling aman baginya. Orang gagal biasanya takut mencoba. Baginya lebih baik berdiam diri daripada mencoba dan gagal.

Rabu, 19 Juni 2013

Cerita Sang Pahlawan: Dengan sandal butut dan kaos lusuh, Soekarno tinggalkan istana

Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mencabut kekuasaan Presiden Soekarno tanggal 12 Maret 1967. Sebelumnya sejak Surat Perintah 11 Maret 1966, kekuasaan memang telah beralih pada Jenderal Soeharto. Soekarno menolak anjuran loyalisnya untuk melawan Jenderal Soeharto. Dia memilih mengalah. Maka pelan-pelan Soekarno yang masih tinggal di Istana Negara dijadikan tahanan rumah. Pemerintahan Orde Baru mulai memerintahkan menurunkan gambar-gambar Soekarno dari kantor-kantor dan sekolah. 16 Agustus 1967, Soekarno meninggalkan Istana. Tak ada raungan sirine atau pengawalan laiknya seorang pejabat negara. Tidak ada lagi bendera kepresidenan yang 20 tahun menemani Soekarno. "Bung Karno keluar hanya memakai piyama warna krem serta kaos oblong cap cabe. Baju piyamanya disampirkan di pundak, memakai sandal cap bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang koran yang digulung agak besar, isinya bendera sang saka merah putih," kata Perwira Detasemen Kawal Pribadi Sogol Djauhari Abdul Muchid. Hal itu diceritakan dalam buku 'Hari-hari Terakhir Soekarno' yang ditulis Peter Kasenda dan diterbitkan Komunitas Bambu. Tak ada pengawalan layaknya kepala negara, hanya seorang pria tua berusia 65 tahun terkantuk-kantuk dalam mobil tua menyusuri jalanan Jakarta yang macet. Soekarno sempat tinggal di paviliun Istana Bogor. Gerakannya masih relatif bebas. Maka tentara kemudian melarang Soekarno kembali ke Jakarta. Tentu hal ini membuat Soekarno menderita. Dia mulai sakit-sakitan. Akhirnya Agustus 1967, Soeharto juga mengeluarkan ultimatum bagi anak-anak Soekarno. Mereka disuruh meninggalkan Istana Negara. Terpaksa mereka tinggal mengontrak, sementara sebagian tinggal bersama Fatmawati di Kebayoran Baru. Desember 1967, giliran Soekarno dan Hartini yang diperintah meninggalkan paviliun Istana Bogor. Kondisi kesehatan Soekarno makin buruk. Dia kemudian pindah ke Batutulis, sebelum akhirnya menjadi tahanan rumah di Wisma Yasoo, Jakarta. Di Wisma Yasoo inilah Soekarno diperlakukan sebagai pesakitan. Kondisinya terus memburuk. Tanggal 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan nafas terakhir. Berakhirlah hidup Proklamator, pejuang dan presiden pertama Indonesia ini. Ironisnya, dalam status tahanan rumah. Dia ditahan oleh bangsanya sendiri.

Cerita Sang Pahlawan: Sampai meninggal Soekarno tak punya rumah pribadi

Awan hitam menggantung di senjakala hidup Soekarno. Kekuasaannya dipreteli Orde Baru. Tubuh dan jiwanya dimasukkan dalam tahanan rumah. Dijaga ketat sehingga tak bisa melihat rakyat Indonesia. Ini siksaan terberat untuk Soekarno. Menyaksikan kerumunan rakyat dan bicara dengan mereka adalah jiwa Soekarno.

Soekarno ditahan di Wisma Yasoo, tempatnya dulu tinggal bersama Ratna Sari Dewi alias Naoko Nemoto. November 1966, Soekarno meminta Dewi meninggalkan Jakarta. Saat itu Dewi sedang mengandung, Soekarno takut terjadi apa-apa. Maka dia mendesak Dewi kembali ke Jepang.

Bangunan Wisma Yasoo itu milik negara. Setelah Dewi ke luar negeri, rumah itu kosong. Akhirnya Soeharto menahan Soekarno di sana seorang diri. Hingga meninggal, Soekarno tak punya rumah pribadi.

"Aku satu-satunya presiden di dunia ini yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membuatkan sebuah gedung buatku. Tapi di hari berikutnya aku melarangnya. Ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka," ujar Soekarno seperti ditulis Cindy Adams dalam buku 'Bung Karno, Penyambung Lidah Bangsa Indonesia'.

Sebenarnya Soekarno pernah 'hampir' punya rumah. Ada sebuah rumah di Batu Tulis, Bogor, yang merupakan milik Soekarno. Tetapi saat Soekarno lengser, rumah itu disita Orde Baru.

Tragisnya di Wisma Yasoo, Soekarno hidup kekurangan. Dia sering kekurangan uang, bahkan untuk biaya hidup dan pegangan sehari-hari. Walaupun status tahanan, tentu ada saja keperluan Soekarno yang tak ditanggung negara. Akhirnya Soekarno sempat meminta bantuan untuk meminjam uang.

Soekarno juga tak punya mobil pribadi. Mobil miliknya dijual untuk membiayai pembangunan Patung Pancoran.

Pada Februari 1967, Soekarno dirawat di rumah sakit dan meminta Edhi Sunarso menemui dia. Dalam kondisi sakit, Soekarno meminta Edi menyelesaikan patung itu dan segera dipasang. Edi memberitahukan proyek itu mandek karena kurang biaya.

Sampai-sampai Edhi menggadaikan rumahnya. Mendengar hal itu, Soekarno meminta asistennya menjual salah satu mobilnya dan uangnya diserahkan kepada Edhi Sunarso.

Seminggu kemudian, Edhi menerima uang dari penjualan mobil itu sebanyak Rp 1,7 juta. Dengan uang itu, dia menyelesaikan pembuatan tugu Pancoran.

Soekarno meninggal 21 Juni 1970. Tak ada warisan yang ditinggalkan Soekarno pada bangsa ini selain semangat dan gelora revolusi.

sumber:merdeka

Para Perempuan yang Mengubah Dunia lewat Teknologi

SLI — Meskipun jumlahnya terbilang jarang, cukup banyak perempuan dengan sepak terjang mengagumkan turut berjasa dalam mengubah dunia.

Dalam daftar itu, ada beberapa nama wanita yang berkiprah di dunia teknologi, seperti Sheryl Sandberg (COO Facebook), Meg Whitman (CEO Hewlett-Packard), Susan Wojcicki (Senior Vice President Google), dan Marissa Mayer (CEO Yahoo).

Terlepas dari daftar tersebut, BusinessInsider belum lama ini juga merilis daftar 50 wanita yang mengubah dunia. Beberapa dari mereka berkiprah di dunia teknologi dan berkarya dengan memanfaatkan teknologi. Mereka antara lain Sunita Williams, Malala Yousafzai, Marissa Mayer, Melinda Gates, dan Sheryl Sandberg.

Sunita Williams adalah astronot keturunan India-Amerika. Dia memegang rekor sebagai astronot wanita yang melakukan penerbangan antariksa terpanjang dan paling lama berada di luar angkasa. Selain bekerja untuk NASA, Williams juga seorang perwira Angkatan Laut AS dengan berbagai prestasi dan penghargaan. Dia membuktikan bahwa seorang wanita pun bisa sukses dalam bidang yang didominasi oleh laki-laki.

Malala Yousafzai adalah seorang remaja Pakistan berusia 15 tahun. Namun, di usianya yang belia, dia sudah menjadi ikon internasional dalam dunia pendidikan bagi anak perempuan. Sejak tahun 2009, ketika masih berusia 11 tahun, Yousafzai sudah berani bicara soal pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Dia tidak gentar dengan kelompok Taliban Pakistan yang melarang pendidikan bagi perempuan di negerinya. Ketika usianya 11 tahun, dia mulai menulis blog untuk BBC dan mengungkapkan pendapat serta pengalamannya bersekolah.

Meskipun dilarang, dia tetap nekat pergi ke sekolah. Pada Oktober 2012, Yousafzai menjadi korban percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Taliban. Dia ditembak di bagian kepala ketika pulang dari sekolah. Bersyukur nyawanya bisa diselamatkan, remaja ini tetap giat sebagai aktivis pendidikan bagi anak perempuan. Karena keberaniannya, Yousafzai dinominasikan sebagai penerima Nobel Peace Prize termuda dalam sejarah.

Kiprah Marissa Mayer di dunia teknologi sudah sering kita dengar ataupun baca melalui berbagai media. Dalam waktu kurang dari setahun, sejak dia menjabat sebagai CEO Yahoo pada Juli 2012, alumnus Google ini sudah membuat berbagai gebrakan di tempat kerja barunya. Dia melakukan redesain situs Yahoo, memperbaiki sistem e-mail Yahoo, dan melakukan beberapa akuisisi besar, seperti yang dilakukan atas Summly dan Tumblr.

Selain menjabat CEO Yahoo, Mayer juga menduduki posisi direksi di Walmart dan aktif sebagai angel investor. Pada Oktober 2012, Mayer melahirkan seorang putra. Setelah melahirkan, dia memutuskan untuk tidak mengambil penuh cuti melahirkannya dan memilih untuk segera kembali bekerja. Mayer dinilai mampu membuktikan bahwa bukan hal yang mustahil bagi wanita untuk sukses dalam karier dan berkeluarga.

Melinda Gates giat menjalankan kegiatan sosial melalui yayasan yang dia dirikan bersama suaminya, Bill Gates, pendiri Microsoft. Sejak mendirikan Bill and Melinda Gates Foundation pada tahun 1994, pasangan suami istri ini sudah mendermakan hartanya sebesar 36,4 miliar dollar AS untuk berbagai kegiatan sosial.

Sejak akhir tahun lalu, Melinda memfokuskan dirinya pada isu keluarga. Dia sering menjadi pembicara di berbagai negara miskin dan negara berkembang tentang pentingnya program keluarga berencana. Salah satu targetnya kini adalah menggalang dana hingga 4 miliar dollar AS hingga tahun 2020 mendatang untuk mengembangkan teknologi kontraseptif dan membantu lebih dari 120 juta perempuan di dunia agar bisa mengakses peralatan kontrasepsi.

Sheryl Sandberg adalah Chief Operating Officer Facebook. Tahun lalu, Sandberg kembali mengangkat isu feminisme di negerinya dengan merilis sebuah buku berjudul Lean In: Women, Work, and the Will to Lead. Melalui buku itu, Sandberg ingin menginspirasi para perempuan untuk berani mengembangkan dirinya dalam karier dan sebagai pemimpin. Nama Sandberg sendiri sudah berkali-kali masuk dalam daftar wanita paling berpengaruh, baik dalam bisnis maupun di dunia.

sumber: kompas