Tampilkan postingan dengan label Guru Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru Profesional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

Fitria: Dengan berani mencoba hal baru ( metode baru) akan lebih banyak manfaat yang di dapatkan


Saya Fitria Adi Mustika akan berbagi pengalaman mengenai  metode atau  model pembelajaran perkuliahan optoelektronika yang telah berlangsung.
Selama perjalanan proses perkuliahan yang telah berlangsung, disini  saya merasakan hal yang berbeda. Unik, enjoy, menyenangkan, penuh warna, disiplin, tanggung jawab dan masih banyak lagi. Tidak semua dosen bias dekat dengan mahasiswa, namun dengan adanya pantauan, komunikasi dengan dosen ini  jujur  saya merasa dekat, merasa diperhatikan dan dimengerti dosen, yaa karena tidak semua dosen bisa berlaku seperti Bapak Apit. Dengan adanya komunikasi, sharing pengalaman saya rasa mempunyai arti yang mendalam ( dalam diri saya khususnya ) saya jadi berpikir andai semua dosen seperti Bapak, mungkin belajar tidak akan jenuh dan bosan. Ada tantangan tersendiri. Maksudnya kami dihadapkan pada hal-hal baru yang belum pernah kami coba atau kami lakukan. Pepatah mengatakan, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Disini saya belajar untuk lebih memaknai waktu, keberagaman, perbedaan, dan ide-ide yang secara spontan tercipta. Saya belum menemukan dosen yang mayoritas mengenal mahasiswanya dan mau satu per satu mengurusi mahasiswanya seperti bapak. Padahal saya tahu, diluar sana aktivitas bapak sangatlah luar biasa padatnya. Saya sempat berpikir, bagaimana bapak memanajemen waktu dengan kesibukan bapak yang luar biasa. Tapi saya salut, kagum dengan bapak bisa mengontrol semua.
            Dengan adanya metode baru, selain memudahkan dalam penguasaan materi  juga secara langsung menciptakan bakat, kreativitas yang luar biasa yang terpendam dalam jiwa. Seperti saya tahu, fisika ini njlimet, sedikit orang yang mau masuk fisika. Tapi jika proses pembelajaran dilakukan dengan banyak cara pasti akan lebih menciptakan pembelajaran yang bermakna. Larena belajar tidak hanya bisa mengerti tapi harus memahami, menerapkannya dalam kehidupan. Kita harus tanggap dengan keadaan, dengan lingkungan, karena sebagai calon guru tidak hanya kompetensi akademik saja yang harus dimiliki. Kreativitas, tanggap iptek, kemampuan sosialnya, dan tak kalah penting sikap, perilaku yang dituntut memberikan contoh kepada anak didiknya. Saya sudah merasakan menjadi siswa, sudah bisa menilai mana guru yang baik atau tidak. Jadi dengan pembelajaran yang diterapkan pada kuliah ini ( optoelektronika ) akan membantu dalam dunia kami nantinya.

Emosi yang mungkin ada di dalam diri dapat tersalurkan dengan positif dengan menggambar misalnya, kemarin saya belum terfikir mau seperti apa gambar peta konsep saya, semua mengalir begitusaja (spontan) karena tidak terancang sebelumnya mau jadi apa. Saya hanya rindu kampung halaman yang masih hijau, banyak pepohonan rindang, tidak seperti diperantauan ini Pak. Hehe selain itu dalam kelompok ada interaksisatu sama lain, terlebih kemarin anggota kelompok di change. Ada suasana baru begitu. Kemarin saling meminjam pewarna, saling mendukung satu sama lain tentunya. Karena hidup terasa indah jikalau berwarna J dan perbedaan akan menjadi sesuatu yang saling melengkapi, serta kebersamaan sangatlah dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan (saling membantu, saling berinteraksi) walaupun tidak ada yang sempurna tapi mencoba lebih baik lagi.

            Dengan berani mencoba hal baru ( metode baru) akan lebih banyak manfaat yang di dapatkan. Selain dari segi materi kita juga bisa mengevaluasi metode baru kita tersebut baik atau tidak, cocok atau tidak, dengan melihat dari evaluasi yang dilakukan. Pastinya pembelajaran lebih bermakna, ada semacam rasa keingintahuan yang tinggi untuk mencoba dan terus mencoba, lebih diingat karena berkesan, bahkan ada dokumentasinya ( dari foto atau video ) itu akan sangat bermakna jikalau saya telah lulus nantinya.

            Pada intinya, sebagai calon guru, pembelajaran seperti ini (mencoba metode baru) sangat bermakna, berkesan, menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan, dapat menciptakan kreativitas. Tidak hanya belajar yang begitu-begitu saja. J ada tantangan yang lebih bagi saya. Terimakasih kepada bapak yang telah mengenalkan, mengajarkan, membimbing, mengevaluasi, untuk tanggap terhadap situasi dan kondisi, tanggap IPTEK, mengembangkan kreativitas dan optimis untukmencoba hal-hal yang baru. Pembelajaran lebih bermakna dan tidak akan terlupakan.

Liyak Melati: This is my new experience

Saya salah satu mahasiswa pendidikan fisika yang mengikuti mata kuliah optoelektronika. Awalnya saya bingung kuliah opto itu belajar tentang apa?? Terus materinya bagaimana?? Berkaitan tidak dengan fisika?? Tetapi dari situ saya mau mencari tahu jawaban dari semua pertanyaan saya. Mata kuliah optoelektronika ini di asuh oleh dosen saya yang bernama bapak Apit Fathurohman S.Pd, M.Si. beliau ini orangnya kreatif mengapa ? karena beliau ini mampu mengolah suasana kelas agar tidak bosan. Beliau juga sering berbagi ilmu tentang teknologi kepada kami. 

Selanjutnya, metode belajar kami juga tidak monoton. Kami juga sering menggunakan fasilitas internet untuk perkuliahan contohnya belajar lewat edmodo (e-learning) terus juga beliau mengajarkan kami untuk bisa memanfaatkan internet untuk berbagi ilmu contohnya pembuatan blog yang isinya tentang hal-hal yang positif. Itu baru segelintir keunikan dari beliau ini. Baru-baru kemarin kami dikejutkan dengan metode baru yang beliau berikan kepada kami. Saya sebagai kordinator kelas optoelektronika ini diinfokan beliau untuk membawa kertas A4, spidol warna dan pensil untuk pertemuan perkuliahan selanjutnya. 

Awalnya saya bingung mengapa kuliah optoelektronika ini menggunakan spidol warna ?? apa fungsinya ?? . Dan saya pun menginfokan berita tersebut kepada teman- teman saya. Mereka pun berfikiran sama seperti saya. Besoknya, perkuliahan pun dimulai beliau menanyakan kepada kami apakah sudah dibawa peralatan yang saya infokan kemarin ?? kami pun menjawab iya pak sudah. Selanjutnya, beliau memberikan instruksi kepada kami. Kami terdiri dari 7 kelompok setiap kelompok itu terdiri dari 3 atau 4 orang dan setiap anggota kelompok itu dibagi lagi.  Setelah pengelompokkan selesai, beliau memberikan instruksi selanjutnya yaitu membuat peta konsep dari materi yang telah kami sampaikan sebelumnya. 

Di dalam peta konsep itu terdapat ringkasan materi kami yang jelas, padat dan penuh makna. Setelah peta konsep itu dibuat kami boleh memberikan gambar atau warna-warni agar menarik.


Terkhusus saya, membuat peta konsep yang menurut saya full colour dengan warna-warni pelangi yang saya gabungkan dengan sentuhan kelembutan. Bentuk coretan dan garisan spidol itu hanya untuk membuat peta konsepnya lebih menarik. Karena biasanya peta konsep itu di buat dengan bentuk kotak dan terstruktur ke bawah. Saya ingin membuat tampilannya sedikit berbeda dengan gambar yang tidak teratur. 

Materi yang saya tuliskan dengan menggunakan spidol warna gunanya agar kita bisa lebih mudah mengingatnya. Warna pada tulisan tidak semuanya sama saya menggunakan warna yang beda-beda. Dan juga latar belakangnya yang warna-warni dengan warna yang kalem tidak terlalu mencolok.
Pengalaman belajar ini baru saya dapatkan di perkuliahan ini. This is my new experience.
Sekian cerita pengalaman belajar saya J


Good Job. Pokoknya, tidak bakalan menyesal seumur hidup !!!

Nama saya Lista, Nim (06111381320025). Mahasiswa Universitas Sriwijaya, yang saat ini sedang mengikuti perkuliahan Optoelektronika dengan dosen pengampu bapak Apit Fathurohman, S.Pd.,M.Si. Kali ini, saya akan menceritakan pengalaman saya mengikuti perkuliahan Optoelektronika berkenaan dengan pembuatan peta konsep pada tanggal 24 maret 2015.
Pengalaman saya mengikuti perkuliahan ini sangat luar biasa. Apalagi hari selasa kemarin, tepatnya tanggal 24 maret. Jujur, saya tidak menyangka bahwa kemarin kami bakalan disuruh membuat peta konsep. Saya hanya tau, kalau pada hari selasa sore tepatnya jam 15.00 WIB (perkuliahan Optoelektronika). Kami disuruh membawa kertas A4, pensil, dan spidol. Awalnya mikir-mikir. Kami mau ngapain saja nantinya. Sempat terlintas mungkin disuruh menggambar atau apalah,  atau mungkin disuruh buat sketsa untuk proyek fiber Optik kemarin. Tapi, masing-masing orang disuruh membawa satu.jadi saya semakin penasaran.
Kebetulan, Selasa kemarin saya dan beberapa teman dari kelas saya mengikuti latihan di Lt 3 bersama teman-teman yang lain dari divisi sastra Musi Teater jam 13.00 WIB. Dan  dikarenakan jam 15.00 ada perkuliahan Optoelektronika, hampir jam 15.00an lah, kami turun ke Lt 1 untuk mengikuti perkuliahan. Lari-lari dari Lt 3, luar biasa. Untungnnya turun tangga. Sampai dikelas, teman-teman telah mempersiapkan apa yang sudah dibawa.
Kemudian setelah masuk. Kami dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Tambah bingung saya. Kira-kira kami mau ngapain. Sudah banyak lah tanda tanya diotak saya waktu itu. Setelah itu, bapak memberitahukan apa yang harus kami lakukan dengan kertas-kertas dan pensil serta spidol itu. Dan ternyata apa? Kami disuruh membuat peta konsep untuk masing-masing materi yang telah kami bahas sebelumnya per kelompok. Nah, setelah itu barulah saya tercengar-cengir tidak karuan J. Secara tiba-tiba, yang tadinya tanda tanya sudah segunung mungkin, buarrrggg hilang dalam sekejap berganti dengan tema baru. Luar biasa. Sempat terharu saya, karena saya tidak pernah menyangka bakalan disuruh membuat peta konsep dengan segala peralatan itu. Karena krayon, spidol, kertas A4 itu identik dengan melukis atau menggambar, atau mewarnailah. Tapi untuk menggambar peta konsep sendiri, tidak ada dalam daftar pertanyaan otak saya sebelumnya. Yah, bisa dibilang kejutan yang wah la. Hahahahahah.
Dan setelah dipersilahkan memulai membuat peta konsep. Saya pun mulai bersama teman-teman dalam kelompok saya yang baru. Saya membuat peta konsep yang biasa saja awalnya. Karena, menurut sepengetahuan saya begitu la membuat peta konsep. Jadi saya buat begitu. Kemudian, kata bapak terserah kami mau buat seperti apa kertas itu. Tuangkan semuanya. Nah, dari situlah apa yang ingin digambar, saya gambar. Yang lucunya lagi, dalam kelompok kami ini. Semuanya saling tukar-tukar krayon, dan juga spidol warna. Makanya semuanya sangat berwarna. Luar biasa, bahkan saya pun tak pernah membayangkan akan jadi seperti ini. Kami dalam kelompok itu terinspirasi satu sama lainnya, ada yang mengatakan saya ingin membuat pohon pisang lah apa lah. Jadi, karena gambar nya  temen-temen bagus semua. Saya pun terinspirasi. Makanya saya buat bingkai itu, awalnya sebenarnya saya bukan mau buat bingkai. Tapi tanah. Kemudian diatasnya saya mau buat fiber optik yang sedang berwarna-warni. Tapi, lucunya bukan malah jadi fiber optik, tapi jadi gunung meletus. Wah kan? Saking ketidakmampuan saya menggambar sangat luar biasa. Tapi menyenangkan. Kemarin itu benar-benar menyenangkan. Segala beban  apa sajalah, semuanya hilang. Plong. Balik lagi ke gambar saya tadi. Dikarenakan gambaran saya itu sudah mirip gunung meletus, makanya yang awalnya saya pengen buat tanah bergelombang saya ganti jadi bingkai. Tapi, mungkin juga sih. Fiber optik yang jadi gunung meletus yang saya gambarkan dengan warna-warni itu, menggambarkan persaan saya yang benar-benar berwarna pada saat itu. Artinya perasaan yang benar-benar meledak. Ahahaha. Dan juga, dari segi gambarnya. Saya berfikir gambar itu menggambarkan kepibadian diri sendiri juga. Dan mungkin dengan begitu akan menjadi menarik. Peta konsep nya akan menarik perhatian yang membaca. Sehingga menambah pemahaman nya juga pada materi. Kalau tampilannya bagus , pasti tertarik untuk membaca. Tapi kalau tampilannya saja sudah suram, mungkin pikirannya isinya juga suram. Padahal belum tentu seperti itu.
Tapi yah, kemarin itu benar-benar sesuatu. Good Job. Pokoknya, tidak bakalan menyesal seumur hidup. J dijamin waaahhhhhhhhh.

Seperti itulah pengalaman saya J J J TOP lah pokonya.

Senin, 23 Maret 2015

Coopertive Learning: Collaborative Learning dan Active Learning

Kegiatan belajar mengajar dan prestasi belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga prestasi belajar siswa berada pada tingkat optimal (Usman, 2004). Nasution (2000) berpendapat bahwa guru yang bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang paling serasi agar terjadi proses belajar yang efektif. Pada hakikatnya siswa yang belajar, namun guru yang bertanggung jawab bahwa proses belajar itu terjadi dengan baik.

Belajar mengajar yang masih teacher centred, menyebabkan interaksi yang terjadi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru masih belum maksimal. Saat guru menerangkan, siswa sering bertanya kepada teman sebangkunya secara berbisik-bisik apabila ada materi yang tidak dimengerti. Hal ini dikarenakan siswa merasa malu dan takut bertanya kepada guru.

Pada pembelajaran alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa juga bisa saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnya. Bahkan banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh guru (Lie, 2007). Sehubungan dengan kondisi tersebut, maka diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat memperbaikai proses belajar mengajar sehingga menghasilkan perubahan positif dan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran, serta tujuan pembelajaran dapat tercapai. Agar pembelajaran mengarah pada perubahan positif, siswa lebih aktif dan tujuan pembelajaran tercapai guru harus menyiapkan model yang cocok untuk menyampaikan materi tersebut. Seorang pendidik memandang bahwa model pembelajaran merupakan urutan kedua dalam proses pembelajaran, setelah penguasaan materi. Penguasaan materi dan model pembelajaran tidak dapat dipisahkan, karena materi tanpa model kurang menarik, membosankan, dan kehilangan daya pikat, sehingga dikhawatirkan peserta didik sulit dalam mencerna materi. Sedangkan model tanpa materi akan terasa hampa, kosong, dan kering ilmu. Keduanya saling menunjang, melengkapi, dan menyempurnakan, keduanya harus sama-sama dikuasai dan dipraktekkan, sehingga hasil pembelajaran mencapai tujuannya.

Sudjana (2005) menyampaikan bahwa metode atau model adalah suatu rencana penyajian materi secara menyeluruh yang berlangsung secara teratur dan logis serta disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah direncanakan tercapai secara optimal, Uno (2009) menambahkan bahwa metode atau model merupakan suatu cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam menyajikan informasi atau pengalaman baru dan menggali pengalaman peserta didik serta menampilkan unjuk kerja peserta didik.

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau metode pembelajaran :

1. Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.

2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai

3. Langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan
    secara optimal.

4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai proses belajar peserta didik sebagai berikut (Semiawan, 1992):

1. Belajar itu aktif dan konstruktif

Untuk mempelajari bahan pelajaran, peserta didik harus terlibat secara aktif dengan bahan itu. Peserta didik perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Peserta didik membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru yang terkait dengan bahan pelajaran.

2. Belajar itu bergantung konteks

Kegiatan pembelajaran menghadapkan peserta didik pada tugas atau masalah menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal peserta didik. Peserta didik terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.

3. Peserta didik itu beraneka latar belakang

Para peserta didik mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latar belakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan kerjasama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama dalam proses belajar.

4. Belajar itu bersifat sosial

Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya peserta didik membangun makna yang diterima bersama.
Menurut Piaget dan Vigotsky, strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu :

1. Teori Kognitif

Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.

2. Teori Konstruktivisme Sosial

Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semua anggota kelompok.

3. Teori Motivasi

Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi peserta didik untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.

Piaget dengan konsepnya “active learning” berpendapat bahwa para peserta didik belajar lebih baik jika mereka berpikir secara kelompok, menurut pikiran mereka, oleh sebab itu menjelaskan sebuah pekerjaan lebih baik menampilkan di depan kelas. Piaget juga berpendapat bila suatu kelompok aktif kelompok tersebut akan melibatkan yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik (Sutikno, 2004).

Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran di mana peserta didik dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama. Pengertian kolaborasi sendiri yaitu: Model Pembelajaran Kolaboratif dengan Tutor Sebaya:
1. Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam bagian satu team, dan di dalamnya bercampur didalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.

2. Patel berpendapat bahwa kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam mencoba untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and rewards.

John Myers menyatakan bahwa kolaborasi berasal dari bahasa Latin, mengandung makna proses kerja bersama (Sudarman, 2008; Santyasa, 2006). Dalam sejarahnya belajar kolaboratif berakar pada pengembangan konsep dari Inggris. Basisnya adalah dinamika eksplorasi guru-guru Inggris dalam membantu peserta didik melakukan studi literatur dengan mendorong peserta didik agar mengembangkan inisiatifnya sehingga dapat belajar mandiri. Belajar berkolaborasi memiliki tradisi dalam mempelajari perkembangan belajar peserta didik dalam melakukan kajian kepustakaan melalui pendekatan kualitatif.
Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para peserta didik dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para peserta didik saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.

Bentuk kerjasama dalam belajar ini adalah metode cooperative learning. Dalam metode cooperative learning, peserta didik diarahkan untuk bisa bekerja sama, mengembangkan diri, dan bertanggung jawab secara individu (Lie, 2002). Salah satu bentuk cooperative learning adalah pengajaran oleh rekan sebaya yang biasa disebut tutor sebaya (peer tutoring). Dasar pemikiran tutor sebaya ini adalah peserta didik yang pandai dapat memberikan bantuan kepada peserta didik yang kurang pandai (Semiawan, 1992; Pietersz dan Saragih, 2010).

Teknik pembelajaran tutor sebaya yang dapat diterapkan sebagai berikut:

1. Teknik Berpikir-Berpasangan-Berempat
Teknik belajar mengajar Berpikir-Berpasangan-Berempat dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spencer Kagan (Think-Pair-Square). Teknik ini melatih peserta didik untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain (Lie, 2002). Teknik ini memberikan kesempatan pada peserta didik untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain.

Dalam teknik ini, peserta didik dibagi dalam kelompok yang terdiri dari empat peserta didik. Saat mengerjakan tugas dari guru, peserta didik memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri, setelah itu, peserta didik dipasangkan dengan rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya. Setelah selesai berdiskusi, kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Setelah kembali dalam kelompok berempat, peserta didik mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

2. Teknik Two Stay Two Stray
Teknik belajar mengajar Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain (Lie, 2002).
Dalam teknik ini, peserta didik bekerja sama dalam kelompok berempat. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain.
Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. Setelah selesai, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.Pada akhirnya, kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
Dalam pelaksanaannya, metode tutor sebaya dapat disempurnakan secara bertahap sesuai kebutuhan peserta didik dengan memanfaatkan strategi-strategi pada teknik pembelajaran Cooperative Learning, seperti Think Pair Share maupun Two Stay Two Stray.

Referensi
Lie, Anita, 2002. Cooperatif Learning, PT Gramedia: Jakarta
Lie, A., 2007, Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas, Grasindo: Jakarta.
Nasution, S., 2000, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belejar dan Mengajar, Bumi Aksara: Jakarta.
Pietersz, Ferry; Saragih, Horasdia, Pengaruh Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together Terhadap Pencapaian Matematika Siswa di SMP Negeri 1 Cisarua. Prosiding Seminar Nasional Fisika, 2010.
Semiawan, Conny, 1992, Pendidikan Keterampilan Proses, Grasindo: Jakarta
Sudjana, 2005, Metode dan Tehnik Pembelajaran Partisipatif. Falah Production: Bandung
Sutikno, Sobry, 2014, Menuju Pendidikan Bermutu, NTP Press

Usman, Uzer, 2004, Menjadi Guru Profesional, PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Sabtu, 26 Juli 2014

Pendaftaran Workshop Optimasi Guru Tahun 2014

Pendaftaran WOGI Pendaftaran Workshop Optimasi Guru Indonesia (WOGI) 2014 dapat di lakukan dengan cara mengklik formulir ini, dan lakukan pengisian selengkap mungkin.

ILTEC juga melayani workshop di luar kota dan provinsi sesuai dengan permohonan klien.

Legalitas:

NDONESIAN LEARNING, TRAINING AND EDUCATION CENTRE (ILTEC) Akta Notaris Nomor. 01 Tanggal 04 Mei 2013, SIUP Nomor. 503/SIUP.K/3005/KPPT/2013 Disdikpora Nomor. 421.3/1941/26.8/PN/2014

Alamat: Jl. Puteri Kembang Dadar, Villa Siguntang No. B5 Palembang Telpon: 0711-444813 Handphone: 082280265335 (simpati), 081995143542 (xl

Website: http://iltec.mpibewe.com

Info Workshop Bagi Guru Tahun 2014

WOGI 2014 Workshop Optimasi Guru Indonesia (WOGI) 2014 Informasi detail nama workshop, pelaksanaan workshop, durasi/lamanya workshop, kontribusi dan tempat pelaksanaan workshop dapat di lihat disini.